Senin, 26 Maret 2012

Akulturasi Budaya Tionghoa di Nusantara

Ritmik tetabuhan gambang kromong ‘Sinar Gemilang’ pimpinan Sauw Ong Kian mengalun di penghujung malam Imlek, 6 Februari. Sang maestro, Encim Masnah alias  ‘Pang Tjin Nio’ membuka tembang klasik peranakan Tionghoa. Bersuara jernih, tetap nyaring di usia senja. Kerut wajah, rambut memutih, di topang tubuh ringkih yang kian menua. Semangatnya nembang tak pudar seperti lima tahun lalu.
Masnah lahir di dekat kelenteng Avalokiteswara, di kawasan Banten Lama. Ia telah menggeluti sebagai penyanyi gambang kromong dan penari cokek dari umur 14 tahun. Kini, Masnah sekitar 80-an tahun. Ialah maestro gambang kromong yang menguasai tembang-tembang klasik peranakan Tionghoa, pernah menyanyi di Esplanade, Singapura. Suaranya direkam oleh Smithsonian Folkways dan album CD itu berjudul ‘Music from the Outskirt of Jakarta-Gambang Kromong’.
Malam itu, berakhirnya Hari Raya Tahun Baru  Imlek 2563 dan dimulainya perayaan Cap Go Meh. Dalam dialek Hokkien dan secara harfiah berarti hari kelima belas dari bulan pertama (Cap = sepuluh, Go = lima, Meh = malam). Begitulah, riuhnya pelataran Bentara Budaya Jakarta. Orang-orang bersuka-ria melenggokkan pinggulnya, berjoget mengikuti irama lagu ‘Jali-Jali’. 
Sebagian pengunjung mengalihkan perhatian pada pameran bertajuk ‘Budaya dan Karya Seni Peranakan Tionghoa Indonesia’ di ruang pamer galeri Bentara Budaya Jakarta, yang berakhir pada 12 Februari. Beragam ornamen, perhiasan emas-perak, batik tulis, sulaman benang emas, kebaya encim hingga aneka keramik dihadirkan, dari abad ke-7 di masa Dinasti Tiongkok hingga abad ke-16 di masa Dinasti Ming. 
Sejarah panjang terentang, migrasi orang-orang Tionghoa dari daratan Tiongkok, melintasi negeri-negeri jauh di seberang lautan, membelah samudra yang jauhnya jutaan mil dari tanah leluhur. Alhasil, membawa pengalaman dan kehidupan baru di negeri baru.
Kisah mengharukan itu ditandai dengan peluncuran buku ‘Chinese Indonesian Peranakan; A Cultural Journey’ edisi revisi bahasa Inggris ke-2. Di ruang pamer pengunjung disambut dengan meja Tuhan Allah, sebuah meja sembahyang dengan ukuran tinggi. Biasanya digunakan sembahyang malam Tahun Baru (Cia-Gwee Ce-It) atau  untuk sembahyang hari pernikahan (Samkai). Selain itu dapat ditemui lemari altar (Shrine) terbuat dari kayu tembesu asal Sumatera pada abad ke-19, hingga sofa kayu hitam Xuanzhi. Jangan membayangkan sofa Xuangzhi empuk diduduki. Sofa itu terbuat dari batu keras bertekstur agak kehitaman, menyerupai batu fosil ribuan tahun.
Selain ornamen ukir-ukiran kayu nan klasik, terdapat kepala sabuk yang digunakan wanita Tionghoa berlambang 8 Dewa terbuat dari emas bertabur intan-- berumur sekitar 150-200 tahun. Di sudut lain, tandu pada abad ke-19 digunakan untuk seserahan saat acara pernikahan peranakan Tionghoa di Jawa. 
Di dalam ruang pamer yang sesak pengunjung, tembang Jawa dan gamelan ditabuh Niyaga, mengiring suasana perhelatan ‘Budaya dan Karya Seni Tionghoa’. Gamelan pelog-selendro Jawa bercorak motif ukiran Tionghoa itu juga hasil akulturasi Tionghoa-Jawa, terlihat dari bentuk ukirannya. Rupanya perangkat gamelan itu adalah bekas milik kaum peranakan Tionghoa Surakarta, dapat dilihat dari tiang gantung gong terukir inisial KTS atau Karawitan Tionghoa Surakarta.
Akulturasi Tionghoa dengan beragam etnis di Indonesia sangat  kentara, lihat  saja tradisi dan kebudayaan saling-silang, mendekati kedua bangsa. Pada abad ke-19 hingga abad ke-20, baju kurung khas Tionghoa telah ditinggalkan, beralih pada kebaya encim yang terus mengalami perkembangan zaman, di sesuaikan mode. Meski masih kental corak Tionghoa pada bordir dan renda-renda, juga asesoris;  ikat pinggang, tusuk konde, liontin, bros, gelang hingga set kembang goyang untuk pengantin.
Tampak pula, corak  batik tulis  peranakan Tionghoa-Jawa atau Tionghoa-Cirebon, seperti sarung motif ‘Buketan’ yang dibuat pada 1940 oleh pembatik Tionghoa Oey Soe Tjoen. Kain-kain batik lainnya telah berumur 100 tahun hingga 150 tahun. 
Benda-benda warisan tradisi Tionghoa itu tak bernyawa, tapi menyimpan kisah liris pada sifat bendanya. Semisal, keramik ‘Martavan Perdamaian’ dibuat pada abad ke-18, di hias wajah manusia di kedua sisi dan tangan manusia disisi lainnya. Martavan dapat ditemui di Kalimantan, yang digunakan sebagai simbol perdamaian. 
Bila terjadi perseteruan suku atau peperangan di antara dua suku, maka suku yang kalah harus menyerahkan Martavan. Selama belum menyerahkan Martavan, perang akan terus berlangsung. Ada beragam jenis keramik ini; Martavan Coklat yang dibuat pada abad ke-18, Martavan Rudak dibuat pada abad ke-16 hingga abad ke-17, terakhir Martavan Perdamaian yang dibuat abad ke-18.
Konon, jenis Martavan Rudak yang paling disukai masyarakat Kalimantan. Sebab memiliki motif primitif dan ekspresif dibandingkan jenis Martavan lainnya, sebagian besar memiliki motif naga dan wajah raksasa pada kupingnya.
Di sudut ruang, juga terlihat warisan akulturasi Tionghoa dengan budaya Islam di Sumatera hingga Sulawesi. Sebuah piring bernama ‘Shatow’ motif kaligrafi Arab dibuat pada abad ke-16, banyak ditemui di Aceh hingga Sulawesi. Piring itu berkaligrafi Arab yang menggambarkan frase-frase dalam Al Qur’an. Meski bukan memuja-muja kebesaran (glorifikasi) budaya Tionghoa, ada pepatah yang menyebutkan, “Kejarlah ilmu sampai ke negeri Cina...”
Sumber: http://satulingkar.com/detail/read/9/518/akulturasi-budaya-tionghoa-di-nusantara

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar